MADRASAH SEBAGAI BASIS DAKWAH

MADRASAH SEBAGAI BASIS DAKWAH

(Sebuah Kerangka Acuan Program Kerja)

 Oleh : Agus Darman, S.Ag

(Wakil Kepala Bidang Humas dan Guru Fikih/Ushul Fikih MAN 1 Kota Payakumbuh)

A. Latar Belakang

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menetapkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan Nasional ditujukan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.

Dalam upaya meningkatkan kualitas suatu bangsa, tidak ada cara lain kecuali melalui peningkatan mutu pendidikan. Berangkat dari pemikiran itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui lembaga UNESCO (United Nations, Educational, Scientific and Cultural Organization) mencanangkan empat pilar pendidikan baik untuk masa sekarang maupun masa depan, yakni: (1) learning to Know, (2) learning to do (3) learning to be, dan (4) learning to live together (Marwan Saridjo, 2011).

Dalam konteks pendidikan dewasa ini di Indonesia empat hal tadi terakumulasi kedalam tiga domain, yaitu Apektif, Kognitif dan Psikomotor. Secara lebih spesifik pendidikan Islam (baca: madrasah) sangat menekankan keseimbangan antara teori dengan penerapan, antara pengetahuan kemanusiaan yang berguna bagi individu dengan pengetahuan yang berguna bagi masyarakat baik yang berhubungan dengan masalah keduniawian maupun ukhrawi. Prinsip keseimbangan ini diletakkan dengan prinsip pendidikan untuk hidup dengan penuh keimanan menuju keridhaan Allah SWT. Pendidikan madrasah sangat memperhatikan kemaslahatan individu dan masyarakat sehingga semua kepentingan yang ada dapat diakomodir dengan baik (Hery Noer Aly dan Munzier S, 2008).  Berkaitan dengan hal tersebut pendidikan madrasah harus dapat menghantarkan peserta didiknya sebagai pribadi yang unggul secara individu dan bermanfaat bagi masyarakat. Arti kebermanfaatan ini bisa terlihat pada partisipasi aktif mereka di tengah masyarakat dalam berbagai bentuk aktifitas, salahsatunya adalah dalam upaya ikut memberdayakan dan mencerdaskan umat melalui media dakwah. Apabila dikaitkan dengan situasi dan kondisi terkini umat Islam (bahkan seluruh umat manusia) dewasa ini, ditemukan banyak kalangan yang kehilangan pedoman dalam hidup mereka sehingga ini bisa dijadikan sebagai objek dakwah yang utama. Tugas mulia ini sejalan dengan seruan Allah SWT di dalam al-Qur’an:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran  yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk (QS. Al-Nahl (16):125).

            Tugas mulia ini hendaknya dapat diemban oleh madrasah dengan cara mempersiapkan kader mubalighnya yang siap diterjunkan ke tengah masyarakat maka salahsatu cara yang dapat ditempuh adalah dengan mengadakan kegiatan pembinaan kader mubaligh di madrasah.

B. Tujuan

  1. Terwujudnya kader mubaligh yang berkompeten, handal, dan cakap, serta siap menjadi juru dakwah yang berasal dari peserta didik yang pada gilirannya dapat diberi amanah sebagai Tim Dakwah madrasah.
  2. Memberikan kesempatan kepada tenaga pendidik dalam mengembangkan kompetensi profesional dan sosialnya dalam bentuk kegiatan pembinaan potensi peserta didik dalam wadah pembinaan kader mubaligh.
  3. Membantu pencitraan lembaga (madrasah) sebagai salahsatu lembaga yang dapat dijadikan sebagai sarana untuk ber-tafaquh fi al-din (mendalami ajaran agama Islam), khususnya menjadikan madrasah sebagai basis dakwah.
  4. Ikut berpartisipasi dalam mensyiarkan agama Islam ke tengah masyarakat.

C. MANAJEMEN PELAKSANAAN KEGIATAN

  1. Perencanaan

Kegiatan Pembinaan Mubaligh di madrasah diselenggarakan mengacu kepada prinsip-prinsip dan tatakerja manajemen yang baik, maka untuk itu rumus POAC+E (Planing/perencanaan, Organizing/pengorganisasian, Actuating/pelaksanaan,  Controlling/pengawasan + Evaluating/Evaluasi) dipakai dalam tahapan pelaksanaannya.  Kegiatan ini dilandasi dengan niat untuk mewujudkan visi pendidikan secara nasional, visi Kementerian Agama, visi pendidikan madrasah, dan visi madrasah yang bersangkutan. Pendidikan Nasional mempunyai visi “terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah”. Sementara itu pendidikan madrasah sebagaimana dikutip dari Renstra Pendidikan Islam (Darwas, dkk., 2009) mempunyai visi “Terbentuknya peserta didik yang cerdas, rukun, mutafaqqih fi al-din dalam rangka mewujudkan masyarakat yang bermutu, mandiri dan islami”. Kedua visi tadi sejalan dengan program-program pemerintah daerah Provinsi Sumatera Barat yang sangat mendukung pendidikan madrasah dalam rangka memberdayakan umat sehingga tidak mengalami ketertinggalan dalam bidang ekonomi, politik, hukum, sosial dan pendidikan. Dalam hal ini madrasah mendukung seluruh program yang dicanangkan dan dilaksanakan oleh pemerintah dengan memfokuskan diri dalam upaya menyiapkan peserta didik dari madrasah yang tidak kalah jika dibandingkan dengan sekolah-sekolah lain pada umumnya. Hal ini menuntut adanya upaya-upaya nyata dalam memberdayakan peserta didik terutama dalam hal akhlak, pengetahuan, dan keterampilan. Ketiga domain ini harus dilandasi oleh ruh Islam yang bersumber dari al-Qur’an dan al-Sunnah tanpa meninggalkan unsur logika dan sains (Manuhutu, 2008). Hal ini tentu bukan merupakan hal asing di madrasah karena setiap hari peserta didik selalu berjibaku dengan dua sumber tersebut sehingga memudahkan semua pihak terkait untuk mencapainya. Upaya ini tidak bisa diraih hanya dengan kegiatan ko-kurikuler akan tetapi harus didukung oleh kegiatan intra dan ekstra kurikuler. Kegiatan kokurikuler dan intra kurikuler dilaksanakan sejalan dengan proses pembelajaran klasikal sesuai dengan jadwal pelajaran yang dimulai dari pagi sampai siang hari sementara kegiatan ekstra kurikuler dilaksanakan setelah proses tersebut yaitu pada siang sampai sore hari. Sebagai lembaga pendidikan umum bercirikan agama tentu saja madrasah harus mempunyai keunggulan tersendiri jika ingin tetap memperoleh tempat dan tetap diminati oleh masyarakat. Di antara program unggulan tersebut adalah pembinaan kader mubaligh yang dalam pelaksanaannya didukung oleh kegiatan ekstra kurikuler Forum al-Rijal dan Forum al-Nisa’ karena di dalam programnya ada pengkaderan mubaligh tersebut. Program kedua forum di atas mengharuskan pemberdayaan potensi-potensi yang ada di madrasah, maka dalam perencanaan kegiatan pembinaan kader mubaligh yang dilaksanakan semuanya ikut mempunyai andil demi kesuksesan kegiatan itu, sangat cocok dengan sistem pembelajaran madrasah (Achyar Chalil dan Hudaya Latuconsina, 2008). Kegiatan perencanaan ini dapat diawali dengan mengadakan rapat koordinasi antara kepala madrasah, kepala urusan tata usaha, guru (terutama guru Pendidikan Agama Islam-PAI) dan pembina kedua forum tadi untuk menyatukan persepsi. Dari hasil rapat tersebut disepakati bahwa pembinaan kader mubaligh harus dilaksanakan secara terus menerus dan berkelanjutan, untuk itu dibuatlah rencana untuk merealisasikannya.

  1. Pengorganisasian

Setelah selesai dengan tahap perencanaan maka selanjutnya seluruh potensi dan sumber daya yang ada harus diorganisir agar kegiatan dapat dilaksanakan dengan baik, tertib dan teratur. Pengorganisasian ini terdiri dari beberapa kegiatan, yaitu:

  1. Pembuatan surat tugas. Hal ini diawali dengan konsultasi bersama kepala madrasah dan dibantu oleh tata usaha.
  2. Pembagian tugas dan kelompok binaan. Surat tugas yang dikeluarkan oleh kepala madrasah ditindaklanjuti dengan pembentukan kelompok binaan. Guru-guru yang ditunjuk berdasarkan surat tugas tersebut diberi amanah untuk melakukan pembinaan terhadap beberapa peserta binaannya. Nama-nama peserta binaan diperoleh dari data yang dimiliki oleh pembina forum al-Rijal dan forum al-Nisa’ kemudian di bagi kepada beberapa kelompok.
  3. Penentuan jadwal kegiatan. Sehubungan dengan jadwal mengajar dan kegiatan lain di madrasah maka jadwal kegiatan tidak dibuat seragam akan tetapi disusun berdasarkan kesepakatan antara guru pembina dan peserta binaannya dengan catatan kegiatan pembinaan harus dapat dilaksanakan setidaknya dengan frekwensi satu kali dalam satu minggu.
  1. Pelaksanaan

Teknis pelaksanaan kegiatan adalah sebagai berikut:

  1. Dalam pembinaan pertama, seluruh pembina dan peserta binaannya mengikuti arahan dan materi umum dari kepala madrasah.
  2. Pembinaan kedua, Pembina dan peserta binaannya melaksanakan kegiatan sesuai jadwal yang telah disepakati bersama. Inti pelaksanaan kedua ini adalah memetakan kemampuan awal peserta binaan dengan pengelompokan kepada tiga kategori, yaitu BAIK, SEDANG dan CUKUP. Hasil pemetaan diperlukan untuk tindaklanjut pembinaan berikutnya.
  3. Pembinaan ketiga, ditujukan untuk memperbaiki hal-hal yang perlu dibenahi dari hasil pembinaan kedua, misalnya memperbaiki penampilan, pengucapan bahasa Arab, retorika, penguatan mental dan materi dakwah.
  4. Pembinaan keempat dan seterusnya bersifat finishing, artinya memoles penampilan mubaligh agar lebih baik lagi.
  5. Setiap pembina dibekali dengan materi-materi pembinaan yang dianggap perlu bagi mubaligh muda. Materi-materi tersebut antara lain seperti konsep dakwah, motivasi dakwah, manajemen dakwah dan psikologi dakwah (Rahima Zakia, 2013).

 

     4. Pengawasan

Pengawasan pelaksanaan kegiatan terhadap peserta dilakukan dengan kendali absen yang diambil oleh setiap pembina terhadap peserta binaannya.

    5. Evaluasi dan Tindak Lanjut

Setelah kegiatan ini dilakukan maka evaluasi dan tindak lanjutnya dilaksanakan melalui cara, yaitu:

  1. Evaluasi pelaksanaan program, yaitu dengan melihat ketercapaian tujuan yang sudah ditetapkan semula
  2. Evaluasi hasil pembinaan yang diperoleh peserta binaan, yaitu dengan melakukan penilaian penampilan melalui wadah lomba khutbah bagi laki-laki dan pidato bagi perempuan. Bagi beberapa peserta terbaik diberikan reward berupa hadiah untuk keperluan proses pembelajaran dan hadiah untuk pembekalan dan peningkatan kemampuan mereka dalam berdakwah, yang disebut terakhir berupa buku-buku dakwah.
  3. Hasil evaluasi ini ditindaklanjuti dengan kegiatan dakwah yang sebenarnya yaitu dengan menjadikan para peserta binaan sebagai anggota Kelompok Kader Mubaligh Madrasah dan menugaskan mereka untuk melakukan dakwah ke mesjid-mesjid dan mushalla-mushalla di sekitar lingkungan madrasah serta tempat tinggal mereka.

 

D. PENUTUP

Upaya menjadikan madrasah sebagai basis dakwah dapat dilaksanakan di antaranya dengan melaksanakan kegiatan pembinaan kader mubaligh, kemudian menerjunkan kader tersebut ke tengah masyarakat. Upaya ini selayaknya didukung dengan kerjasama antara banyak pihak seperti Pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama, Pemda/Pemko, Majelis Ulama Indonesia (MUI) di daerah lokasi madrasah, lembaga-lembaga dakwah dan pihak-pihak lainnya.

 

 DAFTAR BACAAN

 Chalil,  Achyar  dan  Latuconsina,  Hudaya,   2008.  Pembelajaran Berbasis

           Fitrah. Jakarta: Balai Pustaka

Darwas,    dkk,    2009.    Panduan    Desain   Madrasah,   Padang:   Kanwil

Departemen Agama Provinsi Sumatera Barat

Mastuhu,  M.,  2008.  Sistem  Pendidikan  Nasional  Visioner,  Tangerang:

Lentera Hati

Noer Aly,  Hery  dan  S.  Mundzier, 2008. Watak Pendidikan Islam, Jakarta:

Friska Agung Insani

Saridjo,  Warwan,  2011.  Pendidikan  Islam  dari Masa ke Masa, Bogor: al-

Manar Press

Zakia,  Rahima,   2013.   Motivasi   Dakwah   dan   Keilmuan   Manajemen

             Dakwah, Padang: Imam Bonjol Press